Tertular
Cinta Ayahnya pada Puisi, Senang Berlatih Malam Hari
Usia
Nabila baru tujuh tahun. Langkah kaki kecilnya tegap ke atas panggung. Suaranya
lantang menggaung. Bocah kelas dua ini membaca puisi tanpa rasa canggung.
FATIH MUFTIH, Tanjungpinang.
Nama
lengkapnya Nabila Putri Akhyar. Kesukaannya membaca puisi sudah ada sejak
setahun silam. Hampir di setiap perlombaan atau sekadar panggung pembacaan,
siswi Sekolah Dasar Negeri 014 Tanjungpinang Barat ini selalu ambil bagian. Tak
heran, bila kemampuannya dari waktu ke waktu mengalami peningkatan signifikan.
![]() |
| Nabila |
Namun,
bukan berarti kesenangannya terhadap puisi padam. Karena rupanya rasa suka itu
diturunkan kepada Nabila, yang saat itu masih berusia lima tahun. "Paling
awal yakni dengan sering-sering mengajak Nabila ke acara baca puisi," kata
Moel, suatu hari.
Bunga
cinta Nabila pada puisi semakin hari semakin merekah. Mentalnya juga semakin
terasah. Puisi ke puisi dibacakannya dari panggung ke panggung. Dari
Tanjungpinang hingga sesekali ke kota Batam. Maka ketika Komite Sastra Dewan
Kesenian Provinsi Kepulauan Riau menaja Lomba Baca Puisi sempena Hari Puisi
Indonesia 2016, di Bintan Expo Centre, Rabu (27/7) kemarin, tidak boleh tidak
bagi bocah bersemangat macam Nabila untuk melewatkannya.
Nabila
tiba di lokasi tidak sendiri. Ada sang ibu, Kurniawati, juga Keanu dan Baginda,
dua adik laki-lakinya yang ikut menemani. Nabila sendiri sudah bersiap sejak
jauh-jauh hari untuk berlatih membacakan dua buah puisi. “Biasanya ia berlatih
malam hari atau selepas mengaji,” kata Kurniawati.
Agar
Nabila kian bersemangat, Kurniawati mengaku punya beragam cara untuk
membujuknya. Yang paling mudah, sebagaimana anak-anak pada umumnya, adalah
dengan memberikan hadiah setiap usai penampilan. Tidak perlu mahal. Karena
biasanya Kurniawati cukup mengajak Nabila jalan-jalan ke Tepi Laut sembari
memberi sekadar penganan ringan.
Itu
pula yang dijanjikan Kurniawati kemarin. Ketika mencabut nomor undi dan
mendapat kesempatan tampil ketiga, bukan senang hati Nabila. Ia bercakap kepada
Keanu, bahwa acara baca puisi ini tidak lama. “Nanti main di tepi laut ya dek,”
ujarnya.
Bila
pada umumnya peserta lain yang jauh lebih dewasa dari Nabila terlihat tegang
menyiapkan diri, lain halnya dengan Nabila. Selama menanti, selama itu pula
Nabila bermain dengan dua adiknya. Sang ibu memantau dari kejauhan. Ditanya
mengapa tidak membaca ulang dua naskah puisi di tangannya, Nabila hanya
tersenyum kecil sembari berucap, “kan semalam sudah latihan dengan bunda.”
Lantas ia kembali berlari mengejar Keanu.
Tepat
pukul empat, lomba baca puisi dibuka dengan khidmat. Kini, Nabila sudah duduk
di samping ibundanya. Kakinya bergoyang-goyang; entah lantaran jengah atau
hatinya gundah. Peserta pertama sudah, langsung disusul peserta kedua. Kini
tiba Nabila melangkahkan kakinya ke atas panggung setelah pembaca acara
memanggil namanya diiringi tepukan tangan membahana.
Puisi
pertama yang dibacakan Nabila berjudul Takut
karya Machzumi Dawood. Suaranya lantang menggaung. Dari kata ke kata
dibacakannya tanpa rasa canggung. Bila
takut adalah lambang, maka kau adalah kemalangan, yang kehilangan pikir.
Tak sekali raut muka Nabila memancarkan cahaya takut. Sekali pun di hadapannya
ada tiga dewan juri dan puluhan penonton yang usianya terpaut jauh darinya.
Wajah
Nabila ceria. Seceria warna-warni daun yang melingkar di atas kepalanya. Soal
menang atau tidak, bocah kelahiran Tanjungpinang 17 Juni 2009 silam ini tidak
pernah memikirkannya. Pun kedua orang tuanya. Karena bagi Kurniawati sudah jadi
kesenangan sekaligus kebanggaan tersendiri melihat di atas panggung Nabila berani
berdiri. “Karena belum tentu anak lain seusianya berani ikut lomba membaca
puisi tingkat umum semacam ini,” kata perempuan berjilbab ini.
Tepukan
tangan lebih kencang terdengar seiring Nabila merampungkan puisi keduanya.
Peserta paling belia ini lekas menghablur ke pangku ibunya. Disusul dua
adiknya. Tidak ada keringat dingin yang mengucur di dahinya. Yang ada, dari
bibir mungilnya, Nabila menagih janji ibunya.
“Ayo
ke Tepi Laut, Bun,” ucapnya. Keanu dan Baginda yang ikut mendengar di
sebelahnya bersorak ria.
Dari
bocah bernama Nabila, banyak yang belajar bahwa puisi bukan lagi sesuatu yang
gelap, muram, dan bahkan ditakuti. Tapi, sebaliknya. puisi adalah keceriaan
yang tidak tepermanai. Selamat Hari Puisi Indonesia, Nabila!***

0 komentar:
Posting Komentar